Xiaomi Langkahi Oppo
Xiaomi Langkahi Oppo

Tercatat sebagai vendor smartphone dengan penjualan terbanyak sepanjang sejarah pada satu kuartal, akhirnya Xiaomi langkahi Oppo. Catatan tersebut dirilis oleh salah satu badan riset pasar internasional IDC. Dalam situs resminya, IDC menyatakan bahwa Xiaomi berhasil menjual sekitar 9,4 juta unit smartphone pada kuartal kedua (April-Juni) tahun 2018 ini. Jumlah tersebut masuk ke dalam rekor catatan penjualan smartphone terbanyak di tanah air dalam rentang satu kuartal.

Angka penjualan fantastis tersebut naik sekitar 22 persen dibandingkan kuartal pertama tahun 2018 (Januari-Maret). Atau jika dibandingkan dengan angka peningkatan penjualan dengan tahun lalu (YoY, Year over Year), maka Xiaomi berhasil mendapatkan kenaikan sebesar 18 persen lebih besar dari tahun lalu. Angka yang luar biasa mengingat tahun 2018 baru berjalan setengahnya. Dengan statistik tersebut, Xiaomi juga resmi menjadi vendor dengan pertumbuhan pangsa pasar tertinggi tahun ini.

Xiaomi Langkahi Oppo
Xiaomi Langkahi Oppo

Dalam ringkasan grafik hasil laporan yang disajikan oleh IDC terlihat, Xiaomi pada kuartal kedua tahun 2018 ini memiliki pangsa pasar Indonesia sebesar 25 persen. Angka tersebut terbilang sangat mengejutkan menimbang pada tahun 2017 sebelumnya, Xiaomi hanya berhasil mengantongi pangsa pasar sebesar 3 persen saja. Besarnya persentase pangsa pasar yang diraih oleh Xiaomi tersebut sekaligus membuat Xiaomi langkahi Oppo. Oppo yang pada tahun lalu memiliki pangsa pasar sebesar 24 persen harus rela tergeserkan oleh Xiaomi dengan hanya mengantongi 18 persen saja.

Analis IDC, Risky Febrian menyatakan bahwa faktor utama adanya kenaikan yang signifikan dari Xiaomi tersebut adalah, berkat inovasi Xiaomi yang selalu berusaha menghadirkan smartphone berkualitas dengan spesifikasi tinggi namun tetap terjangkau di masyarakat Indonesia. Ia juga menambahkan bahwa Xiaomi berhasil tumbuh menjadi smartphone idaman masyarakat Indonesia dan sekarang mengancam eksistensi vendor yang berada di urutan pertama, Samsung. Risky juga membandingkan strategi yang dipakai dua vendor kenamaan asal China lainnya, yaitu Oppo dan Vivo. Menurutnya, saat kedua vendor tersebut fokus menggenjot kampanye pemasaran, maka Xiaomi justru fokus untuk menghadirkan smartphone yang lebih kompetitif dari segi harga maupun spesifikasi. Strategi tersebut sangat cocok diterapkan di masyarakat Indonesia yang notabene tidak mau mengeluarkan biaya terlalu besar hanya untuk sebuah smartphone berspesifikasi tinggi.

Dengan adanya kenaikan tersebut, praktis posisi nyaman Samsung yang bertengger di urutan pertama sudah tidak aman lagi. Alasannya, Xiaomi dan Samsung sekarang hanya terpaut 2 persen. Hingga kuartal kedua, Samsung hanya berhasil mengumpulkan 27 persen pangsa pasar Indonesia. jumlah ini mendapatkan penurunan sekitar 5 persen setelah pada tahun 2017 lalu, Samsung berhasil menghimpun pasar hingga 32 persen.

Jelas setelah Xiaomi langkahi Oppo, maka Oppo sekarang berada di urutan ketiga. Pangsa pasar Oppo juga mengalami penurunan dari tahun lalu. Dari yang sebelumnya 24 persen menjadi 18 persen saja. Vivo menempati urutan selanjutnya. Vendor ini mengalami peningkatan namun tidak sebegitu fantastis jumlahnya seperti Xiaomi. Vivo berhasil mengumpulkan pangsa pasar sebesar 9 persen. Angka tersebut mengalami kenaikan sekitar 6 persen setelah pada tahun sebelumnya, Vivo hanya berhasil mengantongi angka 3 persen saja.

Di urutan terakhir ada Advan. Vendor ini termasuk salah satu yang mengalami penurunan pangsa pasar. Pada tahun sebelumnya, Advan berhasil mengumpulkan pangsa pacar sekitar 9 persen sebelum menurun menjadi 6 persen pada kuartal kedua 2018.

Itulah lima vendor teratas yang menguasai pangsa pasar smartphone Indonesia dengan besaran keseluruhan mencapai 85 persen. Sisa 15 persen lainnya merupakan lahan bagi vendor-vendor lain dengan angka penjualan yang belum bisa menembus lima vendor sebelumnya. Sayangnya, angka yang didapat vendor-vendor lain tersebut duga mengalami penurunan, dari yang 29 persen pada tahun lalu menjadi hanya 15 persen saja. Gabungan vendor-vendor lain tersebut mengalami penurunan hampir separuhnya.

Mungkin akan ada pertarungan sengit saat memasuki kuartal-kuartal akhir tahun 2018 ini. Yang jelas, Samsung butuh strategi yang ciamik untuk mengamankan posisinya kembali. Oppo dan Vivo juga harus mulai mengaca dengan Xioami soal bagaimana menjadi smartphone yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia.